Asyiknya Naik VW Borobudur di Borobudur
Spot foto Randu Alas, di Desa Wisata Tuksongo, salah satu lokasi yang disinggahi saat wisata keliling desa wisata Borobudur dengan VW borobudur
VW borobudur yang juga sering disebut VW Camat, untuk keliling desa-desa wisata ini menarik perhatian karena warnanya yang cerah. Rutenya bisa disesuaikan karena ada begitu banyak atraksi dan spot menarik di sana.
Perjalanan wisata kali ini akan melalui lima desa wisata dalam durasi dua jam. Total perjalanan sekitar 18 kilometer.
“Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Randu Alas di Desa Wisata Tuksongo, ini spot foto dengan latar perbukitan Menoreh,”
Tempat ini merupakan lapangan luas yang dikelilingi pohon. Tempat ini disebut dengan Randu Alas karena ada sebuah pohon randu raksasa di sana. Pada musim kemarau, pohon ini menggugurkan daunnya sehingga hanya berupa ranting-ranting kering yang terlihat estetik.
Namun, pemandangan utaman di lapangan ini bukankan pohon randu itu, melainkan perbukitan Menoreh di belakang lapangan. Setelah mobil-mobil diparkir di tengah lapangan, wisatawan diajak turun untuk berfoto dengan latar pohon-pohon tinggi di pinggir lapangan dan perbikitan Menoreh yang hijau memanjang. Cuaca sedang cerah. Langit yang biru dihiasi awan putih membuat panorama semakin indah.
Dari Randu Alas, wisata dilanjutkan menyusuri jalan-jalan desa yang mulus, melewati kebun-kebun penduduk yang ditanami cabai, jagung, terong, dan ragam sayuran lainnya. Ini sebenarnya bukan kebun, melainkan sawah karena pada musim hujan lahannya akan ditanami padi.
Di antara tanaman-tanaman itu terihat puncak stupa Candi Borobudur. Sesekali mobil berpapasan dengan rombongan wisatawan, di antaranya turis asing, yang mengendarai sepeda atau berjalan kaki.
Tiba di Desa Borobudur, wisatawan diajak membatik di Rumah Batik Borobudur. Workshop sekaligus toko ini dikelola oleh sekelompok perempuan pembatik.
Wisatawan yang ingin mencoba membatik akan diberi kain putih berukuran sekitar 40×40 cm yang sudah ada sketsanya. Ada beberapa kompor kecil dengan wajan mini berisi malam atau lilin panas dan canting yang sudah disiapkan.
“Santai saja, sambil Pakai feeling, kalau terlalu dingin, lilinnya tidak bisa jalan, sedangkan kalau terlalu panas akan beleber,” kata dia sambil menunjukkan caranya.
Proses membatik ini susah-susah gampang dan butuh kesabaran. Terkadang sudah berhati-hati pun, canting melenceng dari pola dan lilinnya beleber.
“Pantas saja batik tulis harganya mahal, bikinnya susah,”
Proses membatik yang diikuti wisatawan hanya sampai mencanting, sedangkan pewarnaan dan pencelupan dilakukan oleh anggota kelompok rumah batik itu. Namun, hasil membatik ini boleh dibawa pulang.
Spot terakhir dalam wisata VW Safari ini adalah membuat gerabah di Sentra Gerabah Desa Wisata Karanganyar. Sentra gerabah ini berada di bangunan terbuka di pinggir sawah di belakang rumah penduduk.
“Di Candi Borobudur ada relief pembuatan gerabah, semua pembuatnya perempuan. Sama persis dengan di sini, dari cara pembuatannya yang masih tradisional, pembakarannya, juga pembuatnya yang semua perempuan,
Wisatawan yang belajar membuat gerabah bisa memilih bentuk yang diinginkan, seperti gelas, mangkuk, miniatur stupa Candi Borobudur, atau bentuk lain untuk pajangan. Hasilnya bisa dibawa pulang, tetapi setelah melalui proses finishing, penjemuran, dan pembakaran yang membutuhkan waktu seharian.
Perjalanan wisata dengan trip VW Safari ini menjadi bagian dari wisata Borobudur Trail of Civilization atau BToC yang dilluncurkan pada 2021 lalu. Wisata ini mengajak pengunjung menelusuri jejak peradaban yang terinspirasi dari relief Candi Borobudur.
TRIP VW SAFARI DENGAN KAMI SANGAT MENYENANGKAN DAN SANGAT BERKESAN
